Rilis Data Ekonomi Inggris Campur Aduk, Poundsterling Terpukul

Agen Sbobet Pasti Bayar  — GBP/USD juga tergempur oleh efek kenaikan yield obligasi AS, tetapi pound cenderung lebih tangguh melawan yen Jepang.

Poundsterling merosot sekitar 0.6 persen ke kisaran 1.3900 terhadap USD dalam perdagangan sesi Eropa hari ini (12/Maret), menyusul rilis serangkaian data ekonomi Inggris bulan Januari 2021 yang menunjukkan kinerja beragam. GBP/USD juga tergempur oleh efek kenaikan yield obligasi AS, tetapi pound cenderung lebih tangguh melawan yen yang terdampak paling parah oleh penguatan USD belakangan ini.

GBPUSD Daily

Data GDP Inggris menunjukkan pertumbuhan -2.9 persen (Month-over-Month) untuk bulan Januari 2021, lebih baik ketimbang estimasi yang hanya sebesar -4.9 persen. Defisit perdagangan Inggris juga menyusut lebih besar dibanding estimasi konsensus. Akan tetapi, beberapa data lain justru meleset cukup jauh.

Laju GDP tahunan selip dari -8.6 persen menjadi -9.2 persen (versus ekspektasi -7.8 persen). Pertumbuhan produksi industri dan manufaktur masih-masing jatuh -1.5 persen (vs. estimasi -0.6 persen) dan -2.3 persen (vs. estimasi -0.8 persen) secara Month-to-Month pada periode Januari.

“Penurunan (saat lockdown babak tiga pada Januari) jelas lebih kecil daripada lockdown pertama pada Musim Semi 2020, menunjukkan kemampuan perusahaan-perusahaan dan rumah tangga yang semakin meningkat untuk beradaptasi dengan pembatasan mobilitas yang lebih ketat,” kata Alpesh Paleja dari CBI, “Meski demikian, setahun karantina berulang-ulang telah memperburuk pertumbuhan, pekerjaan, biaya-biaya, dan kebahagiaan (masyarakat).”

Terlepas dari itu, para ekonom masih optimistis terhadap prospek pemulihan Inggris dalam bulan-bulan mendatang. Pasalnya, negeri ini sekarang tergolong paling sukses dalam eksekusi program vaksinasi COVID-19 dan bank sentralnya menentang suku bunga negatif. Berbagai masalah mengkhawatirkan yang tersisa dari perceraiannya dengan Uni Eropa juga mulai terselesaikan secara bertahap.

“Tingkat penerimaan dosis vaksin pertama semestinya tidak melambat secara dramatis pada April, sedangkan jumlah orang yang kembali menerima dosis kedua akan meningkat dengan tajam, karena pengiriman (vaksin) juga diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Pada gilirannya, ini semestinya menjamin pelaksanaan rencana normalisasi aktivitas ekonomi yang dibuat pemerintah dapat dilaksanakan tanpa menyusahkan NHS (sistem layanan kesehatan Inggris-red) lagi,” ungkap Samuel Tombs dari Pantheon Macroeconomics.