IHSG Menguat, Saham BBRI dan HMSP Jadi Incaran Investor Asing

Agen Sbobet Pasti Bayar — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan pada Selasa (18/08/2020).

Pada menit awal perdagangan, IHSG dibuka pada level 5.261,98 atau naik 0,27 persen dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu.

Kenaikan tersebut berlangsung hingga menit ke 5 perdagangan, dengan penguatan 0,45 persen ke level 5.271,11. Sebanyak 167 saham menguat, 82 melemah dan 139 stagnan dengan kapitalisasi pasar Rp6.130,8 triliun.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing. Mereka berbondong-bondong membeli saham BBRI dengan nilai net foreign buy Rp15,4 miliar dan volume perdagangan sebanyak 16,6 juta yang membuat nilai saham BBRI naik 1,80 persen ke Rp3.400.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga menjadi sasaran aksi beli bersih investor asing. Pada menit-menit awal perdagangan, emiten berkode saham HMSP itu mencatatkan nilai beli bersih Rp3,9 miliar.

Sementara itu, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga diborong oleh para investor asing dengan nilai net foreign buy sebesar Rp1,7 miliar.

Sebelumnya, PT Indosurya Bersinar Sekuritas menyampaikan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan diwarnai oleh data neraca perdagangan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 8,4 poin atau 0,16 persen ke level 5.247,69 pada perdagangan Jumat (14/8/2020). Pelaku pasar merespons terhadap pidato yang disampaikan Presiden Joko Widodo perihal nota keuangan RUU APBN 2021.

Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan mengawali pekan pendek, pergerakan IHSG hari ini akan diwarnai oleh rilis data perekonomian neraca perdagangan yang disinyalir masih berada dalam kondisi stabil.

“Sehingga peluang IHSG untuk berada dalam zona hijau masih terbuka lebar. IHSG bergerak di rentang 5102 – 5288,” paparnya.

Namun, di sisi lain pergerakan IHSG juga dibayangi oleh masih terjadinya capital outflow secara year to date dan melemahnya nilai tukar rupiah. Karena itu, jika terjadi momentum koreksi wajar para investor masih dapat memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka pendek.