Sejarah Luca Modric

Nama Luca Modric seorang pemain sepakbola professional asal Kroasia ini lahir pada 9 september 1985 lahir di Zadar, Yugoslavia. Yang saat ini sedang berlabuh di tim Real Madrid sejak tahun 2012. Nama Luca Modric ada dalam daftar 30 pemain spakbola yang masuk dalam nominasi penghargaan Balon d’Or 2017.

Namanya mulai bersinar dalam beberapa tahun belakangan. Ia berhasil masuk dalam nominasi penghargaan pesepakbola terbaik versi Majalah France Football dalam dua tahun terakhir. Meski pada tahun selanjutnya trofi Balon dOr lepas dari cengkeraman Modric, tetapi paling tidak masuknya nama gelandang asal Kroasia itu dalam nominasi peraih penghargaan dalam dua tahun beruntun. Sebuah pertanda betapa pentingnya sosok pemain bernomor punggung 10 ini di deretan pemain Real Madrid.

Masa Lalu Penuh Tantangan

Melihat performanya dalam dua musim ke belakang, Luca Modric tampil dalam 85 penampilan di seluruh ajang dengan daftar empat gol dan sembilan asis. Torehannya memang tidak terlihat menonjol dari sisi produktivitas gol dan asis. Tetapi statusnya tetap aktor peniting di lini tengah.

Modric juga sudah menjadi sosok sangat penting untuk keberhasilan Madrid dalam meraih dua gelar Liga Champions beruntun pada musim 2015-2016 dan 2016-2017. Di Pada Liga Champions musim lalu, Modric berlaga dalam 11 pertandingan dari total 13 pertandingan yang dilakoni Madrid. Ia absen dalam dua laga hanya karena mengalami cedera. Sisanya ia selalu dijadikan sebagai pemain utama. Statistik aksinya juga mengindikasikan pentingnya Modric untuk Madrid. Per laga Modric dapat mencatatkan 1,09 umpan penting.

Masuk dalam kandidat peraih Balon d’Or menjadi suatu apresiasi pelaku sepakbola Eropa atas kinerjanya yang spektakuler dalam satu musim. Namun dalam perebutan gelar itu Modric bukan di pemain yang paling difavoritkan, menilik sosok Cristiano Ronaldo jauh lebih difavoritkan. Sebab selain sukses memberikan kesuksesan untuk Madrid, ia sukses membawa Portugal meraih gelar juara di Piala Eropa pada tahun 2016 silam.

Modric merupakan pesepakbola yang mempunyai sikap rendah hati dan sederhana. Tetap rendah hati walau sudah memiliki trofi yang prestisius yang diraihnya besama Los Blancos. Lebih dari cukup untuk bisa menjadikan kenangan emas dalam perjalanan karirnya dengan berbagai rintangan dan duka. Sampai menjadi pemain sepakbola kelas dunia seperti sekarang ini, sudah menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

Hari-hari Modric kecil dihiasi serangkaian marabahaya yang dapat mengancam nyawanya kapan saja akibat perang sipil. Modric berasal dari wilayah Modrici, di antara kota kecil di lereng Pegunungan Velebit. Dan memang wilayah itu memang rawan sekali terjadi konflik.

Masa Kecil Luca Modric

Luca Modric lebih sering menghabiskan waktunya bersama sang kakek. Sebab kedua orang tuanya sibuk bekerja di pabrik rajut dekat lokasi tempat tinggalnya. Ia tumbuh dan berkembang dibawah pengawasan kakeknya. Namun kepedihan harus ia rasakan pada tahun 1991, ketika kakeknya terbunuh di tangan pemberontak Serbia.

Melihat situasi yang semakin kacau, Modric dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke kota Zakar. Luca Modric dan keluarganya bisa dikatakan pengungsi ditengah kacaunya perang. Ia tinggal di sebuah pemukiman yang berada di Kolovare. Disana ia bertemu dengan Marko Ostric, sebagai teman penggemar sepakbola.  Pada saat di pengungsian Luca Modric menghabiskan hari-harinya dengan bola yang selalu lengket di kakinya. Tidak peduli dengan lokasi yang tidak mendukung, ia tidak kenal lelah bermain bola.

Suatu saat ada seorang pekerja yang tinggal di lokasi tersebut. Ia melihat Modric bermain dan dengan menontonnya memotivasi dirinya. Kemudian si pekerja tersebut menghubungi direktur sebuah club sepak bola. Untuk kemudian menyaksikan permainan Modric. Singkat cerita direktur tim NZ Zadar, Josip Bajlo tertarik dengan bakat yang dimilikinya. Ia langsung menawarkan untuk daftar sekolah dasar dan akademi olahraga setempat.

Keadaan tidak semudah itu, keluarga Luca Modric sedang berada dalam situasi ekonomi yang sangat sulit. Dan beruntung ia mempunyai paman yang baik hati, sehingga bisa memberikan pertolongan finansial untuk ia dapat mendudki edukasi yang di inginkan. Di akademi tersebut Modric terus bertumbuh sampai dengan umur 12 tahun ia mendapatkan tawaran untuk mengikuti seleksi di Hajduk Split. Disana ia merasa sangat senang dan bangga.

Walau di dalam situasu ekonomi yang sulit. Tidak menjadi alasan untuk tidak berprestasi. Namun pada saat itu, ia sempat dibuat kecewa oleh klub yang ia idolai. Modric tidak berhasil masuk kedalam tim karena pertimbangan postur tubuhnya yang kecil. Hal itu membuanya amat kecewa sehingga ia sempat tidak bermain sepakbola dalam jangka waktu yang cukup lama.

Luca Modric Bangkit Dari Keterpurukan

Akhirnya Tomsilav Basic datang  untuk membalikkan motivasi dan keyakinan Modric yang hancur akibat penolakan Hajduk tersebut. Kemudian bangkit dan berkembang lebih kuat dari sebelumnya.

Singkat cerita, dengan bakat yang dimilikinya akhirnya Luca Modric dipilih menjadi pemain utama. Tidak lama ia dipinjamkan ke beberapa kesebelasan yang sampai akhinya Zagreb memberikan kontak berdurasi 10 tahun untuk pemain yang sempat bermain untuk Tottenham Hotspur.

Modric pun sempat dipinjamkan ke sejumlah kesebelasan, sampai akhirnya Zagreb pun menyerahkan kontrak berdurasi 10 tahun untuk pemain yang sempat bermain guna Tottenham Hotspur tersebut menyusul penampilan sensasional yang ditunjukkannya bareng Inter Zapresic. Mulai dari sana kehidupan Modric berubah, uang tidak sedikit yang didapatnya dari kontrak itu tak ia hamburkan guna kepentingannya sendiri. Uang itu ia belikan lokasi tinggal untuk keluarganya, sampai keluarga Modric juga pindah dari lokasi tinggal pengungsian tersebut dan mengawali hidup baru dengan mencopot status pengungsi.

Luca Modric Bersinar

Penampilan Modric terus menjadi pusat perhatian. Dari total 68 pertandingan bareng Zagreb, 21 gol dan 21 asis sukses disumbangkannya. Klub-klub besar Eropa sangat siaga untuk dapat mengamankan pemuda Kroasia itu.

Dengan Spurs, Luca Modric tampil dalam 160 penampilan dengan mencetak 17 gol. Pada musim 2011/2012 Modric juga dilepas dengan berat hati untuk pergi ke Real Madrid. Musim pertamanya di Santiago Bernabeu tak berjalan cocok dengan harapan. Masa persiapan yang minim di pra musim dan kokohnya posisi Xabi Alonso, Mesut Oezil, dan Sami Khedira menciptakan pemain berusia 32 tahun tersebut seakan tidak mempunyai peluang bermain di kesebelasan utama.

Pada akhir tahu 2012, Marca menyelenggarakan jajak pendapat dengan semua penggemar sepakbola di Spanyol. Hasil yang mengejutkan, sebab Modric masuk dalam jajaran pembelian terburuk, dengan Alex Song dari Barcelona. Tapi Modric ialah pria yang bermunculan di negeri rawan konflik, desakan semacam tersebut bukan apa-apa baginya. Saat satu per satu saingannya hengkang, ia dapat membuktikan diri dan menjadi sosok vital di lini tengah Madrid, terlebih ketika tampuk kepemimpinan di pegang Carlo Ancelotti sampai Zinedine Zidane.

Baca Juga : Belajar Saham